HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEJADIAN RAWAT INAP ULANG PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA

Authors

  • Ismi Rumsyi Fathonah Universitas Sahid Surakarta, Indonesia
  • Anik Suwarni Universitas Sahid Surakarta, Indonesia
  • Vitri Dyah Herawati Universitas Sahid Surakarta, Indonesia

Keywords:

Dukungan Keluarga, Kejadian Rawat Inap Ulang, Skizofrenia

Abstract

Latar belakang : Gangguan jiwa merupakan masalah kondisi psikologis individu dimana individu mengalami penurunan fungsi tubuh dan merasa tertekan baik dari luar maupun dari dalam individu. Sedangkan skizofrenia adalah bagian dari gangguan psikosis yang ditandai kehilangan pemahaman terhadap realitas dan hilangnya daya tilik diri. Di Provinsi Jawa Tengah prevalensi jumlah penderita skizofrenia sebesar 6,8 % di tahun 2013 dan meningkat menjadi 9,8 % di tahun 2018. Hal ini disebabkan tidak teraturnya pasien dalam mengkonsumsi obat dan kurangnya pengawasan atau perhatian keluarga terhadap perawatan pasien akibatnya pasien mengalami kekambuhan dan harus mengalami rawat inap ulang. Berdasarkan studi pendahuluan yang penulis lakukan di Rumah Sakit Jiwa Surakarta pasien skizofrenia (F20) yang mengalami rawat inap ulang di RSJD Surakarta selama 1 tahun pada bulan April 2022 sampai dengan April 2023 berjumlah 2625 pasien. Dimana pada periode bulan Januari sampai dengan April 2023 ada sebanyak 87 pasien yang mengalami rawat inap ulang (sebanyak 77 pasien rawat ulang sebanyak 2 kali, 8 pasien 3 kali dan sebanyak 2 pasien rawat inap ulang ke empat kalinya). Sedangkan berdasarkan hasil observasi dan wawancara didapatkan dukungan keluarga terhadap perawatan dan pengobatan pasien masih sangat kurang. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab pasien harus dirawat ulang kembali karena kekambuhannya. Tujuan : Mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kejadian rawat inapulang pada pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. Metode : Penelitian i ni menggunakan pendekatan kuantitatif. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif corelative dengan jenis penelitian cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 69 responden diambil dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner dukungan keluarga untuk mengukur keterlibatan keluarga dalam perawatan pasien serta lembar observasi rawat inap ulang pasien untuk menilai jumlah rawat inap ulang pasien dalam 1 tahun terakhir. Untuk menganalisa adanya hubungan antar variabel dalam penelitian ini digunakan uji statistik non parametric Kendall’s Tau dengan menggunakan nilai signifikan 0,05. Hasil : Ada hubungan dukungan keluarga dengan kejadian rawat inap ulang pada pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. Kesimpulan : Berdasarkan karakteristik responden didapatkan gambaran dari 69 responden, frekuensi jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 47 responden (68 %) pada usia 18-58 tahun yang paling banyak mengalami rawat inap ulang. Yang memiliki  hubungan dengan orang terdekat yaitu saudaranya (kakak, adik, ipar, paman, bibi dari pasien) sebanyak 22 responden (32 %). Mayoritas mereka beragama islam yaitu sebanyak 62 responden (90 %). Dari frekuensi pendidikan cenderung 27 responden (39 %) berpendidikan SD dan 27 responden (39 %) berstatus belum menikah. Sebanyak 51 responden (74 %) tidak bekerja sehingga cenderung berpenghasilan kurang. Rata-rata lama sakit responden adalah sudah lebih dari lima tahun yaitu sebanyak 46 responden (67 %). Terdapat sebanyak 51 responden (74 %) yang memiliki dukungan keluarga masuk dalam kategori kurang sehingga intensitas untuk mengalami rawat inap ulangnya masuk kategori tinggi yaitu sebanyak 53 responden (77 %). Berdasarkan hasil uji statistic non parametric Kendall’s Tau didapatkan hasil bahwa variabel dukungan keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan variabel rawat inap ulang dimana nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,490. Nilai koefisien korelasi bernilai positif yaitu sebesar 0,080 yang artinya arah hubungan kedua variabel adalah searah (jika tingkat dukungan keluarga meningkat maka tingkat kejadian rawat inap ulang juga akan turun) dan karena nilai koefisien kolerasinya sebesar 0,080 maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kekuatan korelasi/hubungan kedua variabel ini sangat lemah.

 

Downloads

Published

2024-01-04

Issue

Section

Articles

Citation Check