PENGARUH TERAPI DISTRAKSI AUDIO VISUAL TERHADAP KECEMASAN PASIEN SKIZOFRENIA YANG AKAN MENJALANI TINDAKAN ELECTRO CONVULSIVE THERAPY DI RSJD SURAKARTA
Keywords:
Distraksi Audiovisual, Kecemasan, Skizofrenia, Electroconvulsive Therapy, HARSAbstract
Kecemasan merupakan salah satu masalah psikologis yang dapat dialami pasien skizofrenia sebelum menjalani tindakan Electroconvulsive Therapy (ECT). Kecemasan dapat berkaitan dengan kekhawatiran terhadap prosedur, lingkungan ruang tindakan, serta kemungkinan efek samping setelah terapi. Salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi kecemasan adalah terapi distraksi audiovisual melalui tayangan film pendek komedi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi distraksi audiovisual terhadap tingkat kecemasan pasien skizofrenia yang akan menjalani tindakan ECT di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-experimental dan pendekatan one-group pretest–posttest. Sampel penelitian terdiri atas 20 pasien skizofrenia yang akan menjalani ECT, dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Tingkat kecemasan diukur menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) sebelum dan sesudah intervensi. Intervensi dilakukan dengan menayangkan film pendek komedi selama 5–10 menit. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji paired-samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor kecemasan menurun dari 38,50 ± 6,287 sebelum intervensi menjadi 23,55 ± 5,276 setelah intervensi, dengan selisih rata-rata sebesar 14,950 ± 5,482 poin. Hasil uji paired-samples t-test menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik (p = 0,010). Dapat disimpulkan bahwa terapi distraksi audiovisual berpotensi menjadi intervensi keperawatan nonfarmakologis pendamping untuk membantu menurunkan kecemasan pasien skizofrenia sebelum menjalani ECT. Namun, hasil penelitian perlu ditafsirkan dengan mempertimbangkan desain penelitian yang tidak menggunakan kelompok kontrol.
Downloads
References
Agustina, M., & Sihaloho, H. (2022). Tindakan electro convulsif therapy (ECT) terhadap tanda dan gejala pada pasien skizofrenia: Actions of electro convulsive therapy (ECT) on signs and symptoms in schizophrenic patients. Jurnal Interprofesi Kesehatan Indonesia, 2(1), 250–258.
Amalia, I., Wilson, & Hermawati, E. (2022). Hubungan karakteristik pasien skizofrenia terhadap tingkat kekambuhan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong Pontianak. Jurnal Cerebellum, 8(2), 1–6. https://doi.org/10.26418/jc.v8i2.53588
Arsyad, A. (2013). Media pembelajaran. Rajagrafindo Persada.
Biazar, G., Khoshrang, H., Alavi, C. E., Soleimani, R., Atrkarroushan, Z., Bayat, Z., & Razi Kazemi, M. (2020). Electroconvulsive therapy-related anxiety: A survey in an academic hospital in the North of Iran. Anesthesiology and Pain Medicine, 10(1), e99429. https://doi.org/10.5812/aapm.99429
Chrisnawati, G., & Aldino, T. (2019). Aplikasi pengukuran tingkat kecemasan berdasarkan skala HARS berbasis Android. Jurnal Teknik Komputer, 5(2), 277–282. https://doi.org/10.31294/jtk.v5i2.6312
Devi, N. L. P. S., Nurhaeni, N., & Hayati, H. (2017). Effect of audiovisual distraction on distress and oxygenation status in children receiving aerosol therapy. Comprehensive Child and Adolescent Nursing, 40(sup1), 14–21. https://doi.org/10.1080/24694193.2017.1386966
Dewi, I. J., Anom, D. G., & Swedarma, K. E. (2013). Hubungan frekwensi pemberian electro convulsive therapy (ECT) terhadap tingkat kecemasan pasien dengan skizofrenia di RS Jiwa Provinsi Bali. COPING: Community of Publishing in Nursing.
Fatmawati, L., Syaiful, Y., & Ratnawati, D. (2019). Pengaruh audiovisual menonton film kartun terhadap tingkat kecemasan saat prosedur injeksi pada anak prasekolah. Journal of Health Sciences, 12(2), 15–29. https://doi.org/10.33086/jhs.v12i02.996
Hawari, D. (2008). Manajemen stres, cemas dan depresi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Heslin, K. C., & Weiss, A. J. (2015). Hospital readmissions involving psychiatric disorders, 2012. Healthcare Cost and Utilization Project (HCUP), Statistical Brief No. 189. Agency for Healthcare Research and Quality. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK305353/
Juanita, F. (2017). Teknik distraksi audio visual menurunkan tingkat kecemasan anak usia sekolah yang menjalani sirkumsisi. Jurnal Ners, 2(2), 95–99. https://doi.org/10.20473/jn.v2i2.4962
Li, X., Zhou, W., & Yi, Z. (2022). A glimpse of gender differences in schizophrenia. General Psychiatry, 35(4), e100823. https://doi.org/10.1136/gpsych-2022-100823
Nandinanti, I. N., Yaunin, Y., & Nurhajjah, S. (2015). Efek electro convulsive therapy (ECT) terhadap daya ingat pasien skizofrenia di RSJ Prof. HB. Sa’anin Padang. Jurnal Kesehatan Andalas, 4(3).
Novitayani, S. (2016). Karakteristik pasien skizofrenia dengan riwayat rehospitalisasi. Idea Nursing Journal, 7(3), 23–29. https://doi.org/10.52199/inj.v7i3.6442
Obbels, J., Verwijk, E., Bouckaert, F., & Sienaert, P. (2017). ECT-related anxiety: A systematic review. The Journal of ECT, 33(4), 229–236. https://doi.org/10.1097/YCT.0000000000000383
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2012). Buku ajar fundamental keperawatan: Konsep, proses, dan praktik (Edisi ke-4, Vol. 2). EGC.
Yusuf, A., Fitryasari, R., & Nihayati, H. E. (2015). Buku ajar keperawatan kesehatan jiwa. Salemba Medika.




